Sabtu, 10 Desember 2011

Meluruskan Makna Jihad 2

Oleh: KH. A. Nuril Huda
 
 
اَلْحَمْدُ للهِ بِذِكْرِهِ تَطْمِئِنُّ الْقُلُوْبَ وَبِفَضْلِهِ تَغْفِرُ الذُّنُوْبَ. أشْهَدُ أنْ لا اِلهَ إلاّ اللهُ الْخاَلِقُ المَعْبُوْدُ وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ الصَّارِفُ الْمَوْعُوْدُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلامُهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أهْل التَّقْوَى وَالْمَعْرِفَةِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الْمَبْعُوْثِ. أمَّا بَعْدُ. فَيَا أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Pada khutbah kali ini, khatib mengajak para jamaah Jum'at sekalian untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, dengan selalu mendekatkan diri kepada-Nya, melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, sepatutnya kita mengucapkan puji syukur kehadiratAllah SWT, atas segala limpahan rahmat dan karunia- Nya, sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang penuh barokah ini. Shalawat dan salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para kerabatnya.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Di antara kata yang sering ditakuti, dibenci, disalahartikan, dan dibonsaikan maknanya adalah kata jihad. Dalam literatur Barat pada umumnya kata jihad diterjemahkan dengan “holy war” atau perang suci. Padahal perang hanyalah salah satu bentuk dari jihad. Dalam Al-Qur’an, kata jihad diterjemahkan dengan berbagai derivasinya dan terdapat 41 kali, baik dalam surat-surat yang diturunkan pada periode Makkah (Makkiyyah) maupun dalam surat-surat yang diturunkan pada periode Madinah (Madaniyyah).

Akar kata jihad adalah جَهَدَ yang beratti keletihan, kegentingan, kepedihan, kesulitan, upaya, kemampuan, kerja keras dan yang mirip dengan itu. Ayat jihad dalam arti perang (qital) atau melawan musuh, hanyalah sebagai salah satu maknanya, dan baru turun pada tahun kedua Hijriyah yang kemudian digumulkan dengan realitas yang konkrit pada Perang Badar (624 M). Di sini jihad dan qital (perang) menjadi sinonim.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Kita tengok selintas situasi Islam di awal kemunculannya pada abad ke-7 M dan mengapa perintah jihad dalam pengertian qital itu diberikan? Pada saat komunintas umat muslim yang masih kecil dan baru saja hiirah ke Madinah (622 M), dalam keadaan masih lemah dan letih karena diusir, sementara pihak musuh (Quraisy Makkah) semakin agresif dan beringas, itulah perintah jihad pertama kali diturunkan. Tujuannya agar komunitas barn tabah dan tegar, dan tak berantakan dalam lingkungan yang serba keras, kasar dan penuh kebencian, serta dendam kesumat.

Kedatangan Al-Qur’an dengan prinsip keadilannya bagi elit Makkah sebagai kota komersial berarti akan membahayakan hak-hak monopoli mereka pada sumber-sumber ekonomi perdagangan. Oleh sabab itu, Nabi Muhammad SAW jangan sampai mempunyai kedudukan yang kokoh di Madinah, sehingga pada akhimya akan mengancam posisi mereka. Jihad dalam arti perang pada saat itu adalah mempertahankan diri dengan segala kesungguhan daya dan upaya. Jika tidak demikian maka komunitas Islam akan lenyap ditelan oleh kekuatan sejarah yang tidak bersahabat. Perintah itu terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 193, yaitu:
 
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلّهِ فَإِنِ انتَهَواْ فَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِينَ

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Bagi umat Islam, pada waktu itu perintah jihad ini sungguh sangat berat. Karena, mereka baru saja membentuk komunitas di Madinah, sebuah komunitas yang belum stabil. Kemudian dalam surat Al-Hajj dijelaskan tentang izin berperang, yaitu:
 
الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيراً وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. Al-Hajj: 40).

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Ayat-ayat di atas jelas sekali menunjukkan makna perang dalam arti defensif atau mempertahankan diri, sekalipun pada ayat-ayat lain dapat pula berbentuk ofensif atau menyerang, tergantung jika situasi mengharuskan demikian. Yakni sepanjang hal itu dilakukan untuk menghapuskan kerusakan di muka bumi (fasad fi al-ardh), menjaga rumah ibadat, bukan merusak atau membakamya, serta kemudian membangun peradaban dengan cara baik dan adil (ishlah).

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Dalam lingkungan sejarah Arab abad ke-7 M, metode kekerasan dan ancaman memang merupakan norma sehari-hari dalam menyelesikan sengketa antara suku dan puak. Bahkan dua emporium besar, Byzatium dan Sasaniah, pada abad itu juga terlibat perang dasyat yang penuh kekerasan. Maka, bagi komunitas Islam yang berusia sangat muda, tidak ada jalan lagi untuk bertahan dan mengarahkan kekuatan-kekuatan sejarah kecuali dengan jihad. Tanpa jihad, tujuan untuk menegakkan yang ma 'ruf dan mencegah yang munkar tidak dapat dilaksanakan. Oleh sebab itu, Nabi dan para pengikutnya harus mengatur strategi yang setiap saat dapat mengancam untuk menghancurkan Madinah. Ancaman itu akhimya menjadi kenyataan dalam bentuk Perang Badar pada 624M, seperti disinggung di atas.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Di bawah pimpinan Nabi Muhammad SAW, Komunitas muslim yang kecil harus berjihad habis-habisan, mengerahkan segala daya dan upaya, sebab bagi mereka perang itu akan sangat menentukan hari depan mereka to be or not to be, seperti tercermin dalam doa Rasulullah SAW, "Ya Allah, di sini pihak Quraisy dengan segala kecongkakannya sedang berupaya untuk mendustakan Nabi-Mu. Ya Allah, aku nantikan pertolongan-Mu yang telah engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, sekiranya pasukan kecil ini hancur binasa hari ini, Engkau tak akan disembah lagi". Sebuah lirik doa yang disampaikan dengan keseluruhan kekuatan jiwa.

Doa ini dikabulkan Allah SWT. Maka, jadilah Perang Badar yang dimenangkan pasukan muslim, sekalipun dari segi jumlah pasukan sangat tidak berimbang. Peristiwa Badar telah menjadi salah satu pilar utama sebagai realisasi doktrin jihad guna menopang perkembangan Islam selanjutnya untuk tampil sebagai agama dunia dalam tempo yang relatif singkat. Sekalipun pasukan muslim kalah dalam perang berikutriya, perang Uhud (625 M), umat Islam jauh lebih pereaya diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang terburuk sekalipun.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Dalam situasi peradaban atau kebiadaban dalam konstelasi serba global seperti sekarang ini, memang serba ruwet dan setiap persoalan tidak mudah dipahami, kecuali apabila kita mampu membaca akar masalahnya yang paling dalam. Harus diakui bahwa umat Islam yang masih berada di sejarah kemunduran peradaban tampaknya sedang menggapai dengan tertatih-tatih untuk merumuskan jati dirinya yang terkoyak karena proses sejarah yang dilakukan selama berabad-abad. Sebagian kita memakai kaca mata buram sehingga tak mampu lagi melihat realitas yang serba getir dengan sabar dan pikiran jernih. Mereka seperti telah kehilangan harapan dan masa depan, sehingga apa yang dilakukan tidak terkontrol, dan kehilangan kendali.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Untuk situasi Indonesia sekarang doktrin jihad yang perlu dikembangkan dan ditegakkan adalah dalam rangka menciptakan sebuah tatanan sosio-politik yang egalitarian (kesetaraan), adil dan bermoral untuk semua golongan tanpa diskrimiasi. Tatanan semacam inilah yang harus menjadi muara dan tujuan perjuangan kita bersama untuk sebuah Indonesia baru yang adil, makmur, ramah, toleran, dan sehat.

Tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an menyuruh umat Islam untuk membangun sebuah tatanan politik di dunia untuk tujuan di atas, membangun masyarakat yang mutamaddin. Akan tetapi, mengenai apa nama tatanan itu dan bagaimana sistemnya, Al-Quran tidak menjelaskan dengan terperinci. Dengan cacatan bahwa prinsip musyawarah sebagai simbol egalitarianisme harus tetap dipertahankan. Tergantung pada hasil pemikiran dan kesepakatan bersama untuk merumuskan nama dan sistem kekuasaan itu.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah SWT

Demikian khutbah yang singkat ini, semoga apa yang khatib jelaskan di atas dapat memberikan gambaran terhadap pemaknaan jihad dalam konteks global seperti sekarang ini. Khatib juga berharap semoga kita mampu memaknai jihad dengan makna yang seluas-luasnya dengan tetap merpegang teguh pada ajaran-ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya.
 
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
 
 
Sumber: NU Online
Silahkan Baca Selanjutnya...!Foswan tetap oke!>>

Minggu, 04 Desember 2011

Muharram Bulan Mulia, Asyuro Hari Istimewa


الحمد لله الذى جعل شهر المحرم أول السنين والشهور, أحمده سبحانه وتعالى حمد عبد شكور , وأشهد أن لااله الاالله وحده لاشريك له شهادة تكون لنا ذخرا عند عزيز الغفور, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله رحمة للعالمين. اللهم صل وسلم وبارك على عبدك ورسولك النبي الأمي سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وعلى جميع الانبياء والمرسلين واتبعهم اجمعين عدد ما بين السموات والأرضين – أما بعد
 
 
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Bersyukurlah bahwa kita semua masih diberi umur panjang menikmati tahun baru Islam. Tak terasa tahun telah berganti, umur telah bertambah, sudahkah semua it kita sertai dengan tambahnya iman dan taqwa? Bukankah Allah telah menambahkan umur dalam hidup kita? Mengapa kita tidak menambah keta’atan kepadanya?Jama’ah Jum'ah yang berbahagia

Ingatkah kita pada suatu hari di Empat Belas Abad yang lalu ketika Rasulullah saw melakukan perjalanan berat dari Makkah menuju Madinah. Di atas punggung onta, mendaki gunung berbatu, menuruni lembah dipanggang di bawah ganasnya terik matahari padang pasir. Medan yang berat menjadi tambah berat ketika harus menghindar kejaran kaum kafir Quraisy. Berjalan dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian. Hanya dengan niat dan keyakinan yang teguhlah Rasulullah saw berhasil akhirnya sampai pula di kota Madinah. Madinah menjadi pelabuhan dakwah Rasulullah saw yang menghantarkan kejayaan Islam. Dari Madinahlah Islam melebarkan sayapnya hingga ke pelosok-penjuru bumi. Ke Asia menembus lautan, mengarungi benua dan menaklukkan Alam. Semua itu Rasulullah saw lakukan demi syiar Islam, hingga kita manusia Nusantara dapat menikmati manisnya iman kepad-Nya. itulah salah satu hikmah hijrahnya Rasulullah saw. Begitu agungnya hikmah di balik hijrah Rasulullah saw, sehingga Umar bin Khattab ra. bersama-bersepakat dengan para sahabat me’monumen’kan hijirah Rasulullah saw dalam bentuk penanggalan dalam Islam.
 
Jama’ah yang dimulikan Allah

Marilah kita bersama-sama berhijrah, berpindah dan berusaha berubah menuju kebaikan, atau menuju yang lebih baik.. Karena sesungguhnya umur kita semakin menipis, jatah umur kita semakin menyempit. Alangkah baiknya jika kita segera melangkah meninggalkan segala yang buruk dan menggantinya dengan hal yang lebih bermakna. Sudahkah kita memenuhi tabungan amal kita dengan amal yang shaleh. Padahal umur kita semakin hari semakin berkurang. Seperti yang termaktub dalam hadits:
 
طوبى لمن طال عمره وحسن عمله (رواه الطبرانى عن عبدالله بن يسر)
 
Artinya: Sungguh berbahagia bagi orang yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya (HR. Thabrani)
 
Memang dalam sejarah tercatat bahwa secara fisik Rasulullah saw hanya sekali melaksanakan hijrah. Akan tetapi hijrah itu harus kita maknai secara dinamis. Bahwa pergerakan dan perubahan tidak cukup dilaksanakan sekali seumur hidup. Jikalau dalam taraf tertentu kita telah merasa sudah baik, maka hendaklah terus berubah menuju ke yang lebih baik. Dan begitulah seterusnya.
 
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Bulan Muharram dalam tradisi Islam memiliki makna yang dalam dan sejarah yang panjang. Diantara kelebihan bulam Muharram terletak pada hari ‘asyura’ atau hari kesepuluh pada bulan Muharram. Karena pada hari ‘asyura’ itulah (seperti yang termaktub dalam I’anatut Thalibin) Allah untuk pertama kali menciptakan dunia, dan pada hari yang sama pula Allah akan mengakhiri kehidupan di dunia (qiyamat). Pada hari ‘asyura’ pula Allah mencipta Lauh Mahfudh dan Qalam, menurunkan hujan untuk pertama kalinya, menurunkan rahmat di atas bumi. Dan pada hari ‘asyura’ itu Allah mengangkat Nabi Isa as. ke atas langit. Dan pada hari ‘asyura’ itulah Nabi Nuh as. turun dari kapal setelah berlayar karena banjir bandang. Sesampainya di daratan Nabi Nuh as. bertanya kepada pada umatnya “masihkah ada bekal pelayaran yang tersisa untuk dimakan?” kemudian mereka menjawab “masih ya Nabi” Kemudian Nabi Nuh memerintahkan untuk mengaduk sisa-sisa makanan itu menjadi adonan bubur, dan disedekahkan ke semua orang. Karena itulah kita mengenal bubur suro. Yaitu bubur yang dibikin untuk menghormati hari ‘asyuro’ yang diterjemahkan dalam bahasa kita menjadi bubur untuk selametan.
 
Bubur suro merupakan pengejawentahan rasa syukur manusia atas keselamatan yang Selma ini diberikan oleh Allah swt. Namun dibalik itu bubur suro (jawa) selain simbol dari keselamatan juga pengabadian atas kemenangan Nabi Musa as, dan hancurnya bala Fir’aun. Oleh karena itu barang siapa berpuasa dihari ‘asyura’ seperti berpuasa selama satu tahun penuh, karena puasa di hari ‘asyura’ seperti puasanya para Nabi. Intinya hari ‘syura’ adalah hari istimewa. Banyak keistimewaan yang diberikan oleh Allah pada hari ini diantaranya adalah pelipat gandaan pahala bagi yang melaksanakan ibadah pada hari itu. Hari ini adalah hari kasih sayang, dianjurkan oleh semua muslim untuk melaksanakan kebaikan, menambah pundi-pundi pahala dengan bersilaturrahim, beribadah, dan banyak sedekah terutama bersedekah kepada anak yatim-piatu.
 
Hadirin Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Bubur suro, baik yang dituangkan oleh Nabi Nuh as. maupun yang dimasak oleh para nenek dan ibu kita, bukanlah satu-satunya bentuk sedekah yang harus kita laksanakan pada bulan ini. Bubur itu hanyalah perlambang bahwa bulan Muharram, awal tahun baru Hijrah merupakan momentum untuk memperkokoh persaudaraan. Karena sejatinya bubur suro yang telah dimasak tak mungkin disembunyikan, pastilah untuk dihidangkan. Ada baiknya hidangan itu kita bagikan kepada tetangga dan sanak keluarga. Sebagai tanda syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Nikmat umur terutama. Jika demikian logikanya, maka bubur itu bisa diganti dengan parcel berisi buah-buahan, atau serantang maknan, atau beberapa tusuk sate maupun iga bakar. Karena subtansinya adalah bersilaturrahmi membagi rasa sukur kepada sesama. Bukan bersilaturrahmi melalui pesan singkat yang dikirim dengan menebus pulsa. Bukan itu…!
 
Akhirnya, saya ucapkan selamat tahun baru, semoga hari ini lebih baik dari hari kemaren, dan pastikanlah esok lebih baik dari hari ini…amien
 
 
جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
 
 
Sumber: NU Online
Silahkan Baca Selanjutnya...!Foswan tetap oke!>>

Sabtu, 03 Desember 2011

Undangan Foswan

Silahkan Baca Selanjutnya...!Foswan tetap oke!>>

Cak Nun: Kasan Kusen

SESUDAH dibantai dengan jenis kekejaman yang sukar dicari tandingannya dalam peradaban umat manusia, penggalan Sayidina Husein putra Fatimah putri Muhammad Rasulullah SAW diarak, diseret dengan kuda sampai sejauh 1.300 kilometer. Wallahua'lam, ada yang bilang dibawa sampai ke Mesir, yang lain bilang ke Syria --sebagaimana ada beberapa makam Sunan Kalijogo di Pulau Jawa-- tapi pasti pembantaian sesama muslim itu terjadi di Karbala.

Orang yang mencintai beliau bisakah menangis hanya dengan mengucurkan air mata, dan bukan darah? Jutaan pencintanya memukul-mukul dada mereka agar terasa derita itu hingga ke jantung dan menggelegak ke lubuk jiwa. Ribuan lainnya membawa cambuk besi atau apa saja yang bisa melukai badan mereka agar kucuran darah itu membuat mereka tidak siapa pun kecuali Imam Husein sendiri. Orang yang mencintai melarutkan eksistensinya, melebur, hilang dirinya, dirinya sirna, menjadi orang yang dicintainya.

Keperihan maut Husein itulah yang menjadi sumber kebesaran jamaah Syii di dunia. Duka yang mendalam atas apa yang dialami cucu Nabi itulah yang membuat kaum Syiah menyerahkan hatinya dengan sangat penuh perasaan kepada komitmen ahlulbait, keluarga Nabi. Sementara di pusat Islam sendiri, Arab Saudi --kerajaan yang didirikan oleh koalisi keraton Abdul Aziz dengan ulama Wahabi-- konsentrasi emosional terhadap ahlulbait sangat dicurigai sebagai gejala syirik yang melahirkan berbagai jenis bid'ah, yakni perilaku-perilaku budaya keagamaan yang diciptakan tidak atas dasar ajaran Nabi sendiri, sehingga dianggap mengotori kemurnian peribadatan Islam.

Semacam ''dendam sejarah'' yang berasal dari tragedi Karbala itulah yang melahirkan soliditas sistem imamah dalam budaya keagamaan kaum Syii. Kepemimpinan dan keumatan dalam Syiah merupakan kohesi horizontal-vertikal yang sangat berbeda vitalitasnya dibandingkan dengan tradisi kaum Sunni. Seandainya di Indonesia orang mengatakan ''Gus Dur dengan 30 juta umat NU-nya'' atau ''Amien Rais dengan 25 juta umat Muhammadiyahnya'' --yang dimaksud adalah kaum Syii, maka tidak ada kekuatan apa pun yang bisa mengalahkan koalisi NU-Muhammadiyah dalam perpolitikan Indonesia.

Kaum Sunni menyebut Abu Bakar, Umar, dan Utsman dulu sebelum Ali. Bahkan tidak secara spesifik menyebut Hasan dan Husein. Orang Syii jengkel kepada ketiga khalifah itu karena menurut versi sejarah mereka, tatkala Nabi Muhammad SAW wafat, yang menguburkan hanya Ali, Aisyah, Fatimah, Abbas, dan seorang lagi pekerja penguburan. Sementara Abu Bakar, Umar, dan Utsman sibuk di Tsaqifah, ''KPU'' yang memproses siapa pemimpin pengganti Nabi --tanpa memedulikan jenazah Nabi.

Bahkan, ketika tengah malam usai penguburan, sejumlah rombongan dipimpin Umar menggedor rumah Ali untuk memaksa menantu Nabi ini menandatangani pengesahan pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah pertama.

Sayidina Hasan, kakak Husein, juga tak kalah sialnya. Pagi-pagi, ia disuguhi racun oleh istrinya yang lantas mengaku bahwa itu atas suruhan Muawiyah. Hasan memaafkan istrinya, dan besok pagi sesudah kejahatannya dimaafkan, sang istri kembali menyuguhkan racun, Hasan meminumnya dan menemui ajal.

Dalam kandungan hati orang Syiah, memang tidak banyak orang menderita seperti Rasulullah Muhammad SAW: jenazah beliau belum diurus, orang-orang yang sangat dicintainya sudah ribut memperebutkan jabatan.

Nabi unggul dan sangat populer sepanjang sejarah, tapi rumah yang ia tempati bersama Aisyah istrinya hanya seluas 4,80 x 4,62 meter. Makhluk diciptakan oleh Allah berupa cahaya, namanya Nur Muhammad --meskipun secara biologis ia dihadirkan 600 tahun sesudah Isa/Yesus-- namun semasa hidupnya ia menjahit sendiri baju robeknya, mengganjal perut laparnya dengan batu di balik ikat pinggangnya, dan waktu wafat masih punya utang beberapa liter gandum.

Manusia yang paling mencintai Allah dan paling dicintai Allah, namun Allah merelakan keningnya berdarah dilempar batu oleh pembencinya, mengizinkannya mengalami tenung sebelum menerima tiga surah firman-Nya. Tak ada kemewahan dunia apa pun melekat padanya. Bahkan, ia tak sanggup menolong Fatimah putrinya yang beberapa hari bersembunyi telanjang dalam selimut di kamar karena pakaiannya dijual Ali suaminya untuk bisa makan.

Muhammad dan keluarganya sangat disayang, bahkan dicintai dengan gelegak rasa perih, karena derita. Ia pun memilih karakter abdan nabiyya, nabi yang rakyat jelata, dan menolak ditawari Allah menjadi mulkan nabiyya, nabi yang raja diraja.

Allah menawarinya jabatan raja agung dengan kekayaan berupa gunung emas --yang ternyata memang sudah disediakan oleh-Nya, di wilayah antara Madinah dan Mekkah, yang hari ini menjadi cadangan kekayaan Arab Saudi, di samping tambang minyak temuan baru di perbatasan Saudi-Yaman yang hari ini bisa menjadi sumber konflik antara kedua negara. Sebab, jika Yaman menguasai sumber minyak itu, karena daerah geografisnya lebih rendah, maka minyak Saudi di perut bumi akan terserap olehnya.

Rasulullah pernah bersabda bahwa kelak kaumnya akan mengalami kekalahan dan hidup dalam kehinaan, karena ''hubbud dunya wa karohiyatul maut'' --kemaruk pada harta dunia dan takut mati.

Wallahua'lam. Dalam hal maut, mestinya kaum Syii lebih memiliki etos dan kesadaran spesifik, karena riwayat Ali, Hasan, dan Husein yang mereka tokohkan. Maut dan derita Husein adalah sumber tenaga sejarah. Kematian Husein bukan balak atau tragedi, melainkan kebanggaan yang melahirkan kesadaran baru mengenai ideologi ''jihad'' dan ''syahid''.

Jihad adalah persembahan total diri seseorang kepada kepentingan Allah melalui perjuangan kebenaran yang diyakini. Jihad membuat dunia menjadi kecil, remeh, dan tidak penting. Jika seseorang sudah terpojok, bedil musuh di depan dan kiri-kanannya, sementara kebuntuan di belakangnya, maka jiwa jihad menjadi menggelegak. Keterpojokan membuatnya bersyukur karena dunia, hedonisme, kemewahan, dan segala hiasannya sudah tidak punya makna lagi. Tinggal satu: Allah.

Jika Ia sendirilah yang merupakan tuan rumah dalam kehidupannya, maka kematian adalah sesuatu yang dirindukan. Maka, ia terus bersemangat untuk berperang. Bukan karena perang itu sakit atau nikmat, melainkan karena Allah memberinya jalan syahid tanpa hambatan dunia. Maka peluru musuh tidak dihindarinya, melainkan disongsongnya.

Karena itu, bisa dipahami tatkala pasukan koalisi kecele bahwa ternyata kelompok Syiah tidak begitu saja bisa diprovokasi untuk serta-merta mensyukuri kedatangan pasukan koalisi, hanya karena sepanjang hidup di Irak mereka ditekan oleh Saddam Hussein.

Akan tetapi, pada level kualitas perjuangan yang lebih tinggi, juga sangat disayangkan bahwa kaum Syiah tidak mampu secara kolektif meneruskan konsistensi etos jihad dan syahidnya sampai ke tingkat substansi yang lebih berkemuliaan. Ketika mereka melakukan pawai ke Karbala untuk mengekspresikan rasa cinta Husein, yang terjadi baru semacam pelampiasan bahwa kini Saddam penghalang mereka sudah tidak memiliki kekuatan.

Pawai itu tidak membawa mereka kepada nilai kepemimpinan dan perjuangan yang lebih tinggi yang menyangkut: (1) Nasionalisme Irak tanah persemayaman mereka, (2) Martabat bangsa-bangsa Timur Tengah, juga (3) Harga diri kaum muslimin di hadapan fundamentalisme Bush.

Pawai Karbala hanya menyampaikan kaum Syiah pada keperluan lokal kaum Syiah sendiri. Peta yang tergambar hanya kekuasaan Saddam dan eksistensi kaum Syiah di Irak. Padahal, sesungguhnya mereka kini berada dalam posisi yang relatif sama dengan Saddam dan negara-negara Arab lainnya, dalam konteks adikuasa Amerika Serikat.

Bush barusan menyatakan bahwa minyak Irak bukanlah milik Saddam dan keluarganya. Sesungguhnya Bush utamanya sedang berkata kepada monarki Arab Saudi: minyak di Saudi bukanlah milik Raja Saudi beserta para amir dan keluarga serta keluarga kerajaan. Bersiaplah pada suatu hari wacana itu akan diaplikasikan. Kerajaan Arab kini berada dalam ketakutan yang mendalam: Raja Fahd sudah hampir terkikis kesehatannya, Fahd yang menggenggam de facto kekuasaan sudah berumur 84 tahun, beberapa pangerannya sakit kaki.

Sejak 1980, Arab mengizinkan tanahnya menjadi salah satu pijakan kekuatan militer Amerika Serikat. Kerajaan mendapat jaminan bahwa keluarganya tak akan diutik-utik. Silakan ambil Irak, Suriah, atau mana pun, asal keluarga Saudi tidak diganggu. Kalau perlu, apa boleh buat, Mekkah dan Madinah dikuasai, asalkan kerajaan tetap selamat. Tapi, siapakah yang menjamin keselamatan eksistensi keraton Saudi tanpa ia sendiri membangun kekuatan di dalam dirinya? Apakah Amerika Serikat menjamin keamanan mereka, meskipun rudal-rudal Patriot milik Kerajaan Saudi di-''infak''-kan kepada pasukan koalisi untuk dipakai menghancurkan Irak, saudaranya sendiri, pada peperangan Maret-April kemarin?

Kekuasaan Saudi tak usah dibayangkan akan sanggup melindungi Mekkah dan Madinah. Tidak mustahil, dua sampai lima tahun lagi, keluarga Kerajaan Saudi tak akan sanggup mempertahankan eksistensinya dari gejolak dan pemberontakan rakyat Saudi yang sudah benar-benar sangat bosan hidup dalam situasi kenegaraan yang tanpa rasionalitas, tanpa demokrasi, tanpa kebudayaan, tanpa tradisi ilmu, tanpa etos-etos modern, dan sepertiganya kini menjadi penganggur, tidak terbiasa bekerja keras, jualan sayur saja gagal.

Kemarin saya mendatangi tumpukan batu tinggi kokoh bekas benteng pertahanan keluarga Yahudi Kaab bin Asraf di kota Madinah. Rasulullah sebelumnya telah mengumpulkan semua segmen masyarakat Madinah untuk bersama-sama menandatangani Piagam Madinah --etika masyarakat plural. Namun, Kaab melanggar perjanjian itu. Terjadi peperangan, Kaab kalah. Dan di milenium III abad ke-21 ini, Kaab akan hadir kembali mengambil Madinah.

Jadi, masalahnya bagi kaum Syiah bukan sekadar bagaimana mereka mendapatkan kemerdekaan hidup di Irak, karena sesungguhnya sekadar di Irak pun, pasca-Saddam, kemerdekaan kaum Syiah itu juga semu. Peta Timur Tengah dan dunia sudah berubah total. Konflik Sunni-Syiah seharusnya sudah menjadi sekunder. Kalau orang Syiah memukul-mukul dada mereka, merintih-rintih, menangis, dan memekik-mekik --konsentrasi keperihan itu kini tidak lagi an sich derita Sayyid Husein belasan abad yang lalu.

Kasan Kusen --demikian masyarakat santri tradisional Jawa menyebut nama kedua cucu Nabi itu-- abad ke-21 tak kalah menderitanya. Mereka tak hanya dicacah-cacah tubuhnya dan dipenggal kepalanya. Mereka bahkan dirudal, dibom, dimusnahkan, disirnakan, diinjak-injak harga diri kemanusiaan dan martabat kebangsaannya, bahkan dirampok hartanya secara terang-terangan.

Emha Ainun Nadjib, Budayawan
Silahkan Baca Selanjutnya...!Foswan tetap oke!>>

Jumat, 02 Desember 2011

Mohon Maaf dan Penjelasan Kyai NU Bukhori Maulana terhadap PKS & Salafi

Terima kasih atas teguran dan  nasihat dari ikhwan saya, Mas Uwais –semoga memiliki sifat yang sama dengan Uwaish ulama Salafusshalih– yang benar-benar masuk ke relung hati saya. Saya berdoa anda bisa banyak memberi masukan selanjutnya untuk saya.

Sesama muslim sangat indah jika saling menasihati. Tapi mohon jika ada rekaman ceramah saya diperhatikan lagi secara komprehensif. Saya sama sekali tidak menyamakan seratus persen PKS dengan Wahabi, sebab saya juga pernah mendengar perseteruan antar mereka bahkan beberapa komentar sinis kelompok Wahabi terhadap ulama yang saya kagumi Yusuf Qardhawi. Tapi dalam perspektif wong NU saya melihat beberapa kesamaan antara kader PKS sebagiannya dengan Wahabi. Mereka tidak tahlilan, tidak qunut shubuh, tidak menyatakan secara jelas bermazhab pada satu imam, kurang bergairah terhadap tradisi keagamaan seperti bersalaman pada waktu Idul Fitri dsb.
Saya bisa memahami karena secara pemikiran mereka umumnya melanjutkan gagasan Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyah serta Ibnul Qayyim Al-Jauzizah. Tapi saya juga paham dalam mengaplikasikan beberapa dimensi ajaran Islam mereka sangat berbeda dengan Wahhabi. Mereka lebih santun dan menghargai perbedaan pendapat. Jadi meskipun saya dianggap salah saya tetap mengakui ada beberapa persamaan prinsipil antara mereka dengan Wahhabi. Contoh lain konsep tauhid antara mereka hampir tidak berbeda atau sama. Itupun saya hargai sebab hal itu adalah ijtihad. Terhadap masalah ini mohon sama-sama mengoreksi.
Kalau boleh dibilang saya berlebihan menggunakan istilah berhala saya juga mohon maaf dan menghargai. Tapi siapa yang menggunakan istilah musyrik terhadap orang-orang yang bertawassul dengan para nabi dan aulia yang telah meninggal dunia, siapa yang menggunakan istilah bahwa makanan dalam acara maulid nabi lebih najis dari daging babi? Pertanyaan ini tidak saya tunjukkan pada PKS. Saya tahu mereka sangat menjaga harga diri. Pun istilah berhala jangan dikaitkan dengan PKS. Anda salah paham.
Mohon dengan hormat kaji kembali  ceramah saya secara utuh. Saya menggunakan istilah berhala karena dalam aplikasi pemikiran agama Wahabi orang yang berbeda pendapat dengan imam mereka disesatkan dan dianggap ahli bid’ah sehingga terkesan mereka memutlakkan pendapat para imamnya. Sedangkan yang benar hanya Allah. Jadi kalau orang menganggap mutlak benar semua ijtihad seseorang menurut saya orang tersebut menuhankan selain Allah juga dan itu namanya pemberhalaan. Mereka menganggap ahli bid’ah orang yang bermazhab tapi taklid secara berlebihan dengan imam imam mereka. Saya sendiri bermazhab Syafi’i tapi bagi saya kalau pendapat beliau tidak berdalil kuat saya tidak  ikut i pendapatnya  contohnya dalam masalah kirim pahala.
...Kalau anda kader PKS saya sangat menaruh hormat dan mohon maaf jika dalam beberapa kalimat saya dianggap mendiskreditkan PKS…
Kalaupun ada perbedaan antara kami dengan Wahabi bagi kami nggak masalah, tapi cobalah dengan jiwa yang jernih bacalah majalah-majalah mereka, tulisan-tulisan mereka, radio-radio mereka dan ceramah-ceramah mereka, silakan renungkan cara mereka berbeda pendapat. Bahasanya kasar, menyakiti sesama muslim dan itu yang kami lawan. Yang  kami lawan sekali lagi bukan perbedaan tapi cara menyikapi perbedaan yang sangat jauh dari cara Salafusshalih.
Monggo tidak tahlilan, monggo tidak bermaulid, monggo tidak bermazhab tapi mohon bersikaplah menghargai perbedaan. Dan saya sekali lagi harus jujur ada beberapa (ingat beberapa) persamaan aplikasi keberagamaan orang-orang Wahhabi dengan PKS tapi saya juga harus jujur bahwa dalam menyikapi perbedaan PKS lebih tinggi kualitas moralnya dari  Wahabi.
...Semoga lewat media ini kita bisa menepis sebanyak mungkin perbedaan dan membangun banyak kebersamaan...
Masalah acara maulid PKS bermotif politik, hanya menyelenggarakannya kalau mau pemilu atau pemilukada silakan bertanya saja pada nurani masing-masing. Kalau anda kader PKS saya sangat menaruh hormat dan mohon maaf jika dalam beberapa kalimat saya dianggap mendiskreditkan PKS.
Dari kalimat yang anda arahkan pada saya, saya merasakan ketulusan dan keikhlasan anda, terimakasih semoga lewat media ini kita bisa menepis sebanyak mungkin perbedaan dan membangun banyak kebersamaan. Allah mendengar doa orang-orang yang tulus. Amin.
Muhammad Bukhori Maulana
bukhorimaulana@gmail.com

CATATAN REDAKSI:
Tulisan ini adalah hak jawab Kyai Muhammad Bukhori Maulana menanggapi komentar Uwais Al-Qarniy dalam "Surat Terbuka Warga Nahdiyin untuk Kyai Foswan Bukhori Maulana" beberapa waktu yang lalu
Silahkan Baca Selanjutnya...!Foswan tetap oke!>>

Kamis, 01 Desember 2011

Mengenang Resulusi Jihad NU


Oleh: Romel Masykuri*
 
Bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar pada sejarah. Dengan sejarah kita dapat berkaca pada kejadian silam untuk dijadikan pijakan serta mengambil spirit perjuangan guna menyongsong masa depan bangsa yang lebih baik. Perlu diketahui lahirnya negeri ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, ribuan nyawa dikorbankan pahlawan kita guna menbebaskan penjajahan yang menyebabkan rakyat Indonesia terpuruk.

Di bulan Oktober ini adalah momentum tepat untuk merefleksikan kembali sejarah besar yang pernah terjadi di negeri ini, khususnya bagi kaum Nahdiyyin (NU). Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Resulusi Jihad yang di deklarasikan oleh Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy'ary kepada warga NU pada tanggal 22 Oktober 1945 merupakan tembok awal yang melahirkan semangat jiwa nasionalis seluruh lapisan masyarakat untuk mempertahankan kesatuan Republik Indonesia dalam situasi apapun.

Semangat perlawanan terhadap kaum imprealis yang dilakukan oleh ribuan kaum Kiai dan santri dari berbagai daerah merupakan bukti kuat bahwa hadirnya negeri ini juga diperankan oleh kaum tradisonalis yang berbasis di pondok pesantren (NU).

Andaikata Resolusi Jihad itu tidak ada, kemungkinan besar proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 hanya menjadi kebahagian sesaat sebab pada pertengahan September 1945, pasukan Inggris yang bernama NICA (Netherland Indies Civil Administration) telah tiba di Jakarta. Walhasil selama bulan Oktober, pasukan Inggris telah menduduki sebagian besar wilayah Sumatera (Medan, Padang dan Palembang), Bandung (Jawa Barat) dan Semarang (Jawa Tengah). Dan kota-kota besar di Indonesia bagian timur diduduki Australia.

Akan tetapi kondisi ini tidak berselang lama, dengan tekad yang bulat dari berbagai elemen, khususnya kaum Nahdiyyin yang berbasis dari Jawa Timur meneriakkan Resolusi Jihad, yang kemudian dipertegas dengan hasil muktamar NU ke-16 di Purwekorto, 26-29 Maret 1946 sehingga warga Nahdiyyin berbondong-bondong menafkahkan nyawanya untuk melawan para penjajah. Puncak keberanian warga NU itu kelimaks pada tanggal 10 November 2010 di Surabaya, kemudian tanggal 10 November dijadikan sebagai hari pahlawan.

Cukuplah jelas kontribusi yang di berikan oleh warga NU dalam tegaknya kedaulatan Republik ini meski kita ketahui ada penelikungan sejarah dalam historisitas Resulusi Jihad itu sendiri. Sebagaimana yang disampaikan oleh Gugun El-Guyanie, dalam buku Resolusi Jihad Paling Syar’i (2010), ia mengatakan bahwa kontribusi kaum Nahdiyyin dibawah panji Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari dalam mempertahankan NKRI dari kaum imprealis sangatlah signifikan. Jutaan nyawa warga Nahdiyyin terkorbankan hanya demi mewujudkan bangsa Indnesia yang bebas dan bermartabat. Namun sayang, produk sejarah bangsa yang lahir tidak mencerminkan kejadian yang sebenarnya. Lebih ironis lagi, Dalam kontek sejarah kebangsaan tidak pernah merekam kejadian itu, sebaliknya sejarah tersebut disembunyikan hingga generasi selanjutnya tidak pernah tahu apa itu Resolusi Jihad.

Bagi penulis tidak jadi persoalan sebab seluruh pahlawan negeri ini tidak mengaharapkan apa-apa, yang paling penting adalah spirit perjuangan yang tertera dapat diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa.

Ditengah-tengah kondisi bangsa yang semakin terpuruk. Arah perjalanan bangsa yang pincang diakibatkan pemimpin kita masih egois dengan ambisi kekuasaan. Ditambah lagi dengan budaya korupsi yang tiada ujung di negeri ini mengakibatkan negeri ini terpukul. Belum lagi masalah kesejahteraan yang menjadi cita-cita founding fathers belum dirasakan secara merata oleh masyarakat. Seakan teriakan dan tangisan para pahlawan di alam kubur menjelma di setiap sudut bangsa Indonesia melihat kondisi ini. Lantas hikmah apa yang dapat diambil dari refleksi Resolusi Jihad ini?

Resolusi jihad tidak lain adalah suatu gebrakan untuk membakar kesadaran seluruh lapisan masyarakat disaat Indonesia dalam posisi genting. Pun demikian kondisi saat ini, rotasi berjalannya pemerintah pasca reformasi belum menemukan posisi ideal untuk mengatakan bahwa Indonesia sudah sejahtera dalam segala hal. Jika dilihat dari sudut ini, maka setiap orang menpunyai fersi tersendiri dalam menjawabnya. Tapi yang jelas, hemat penulis kondisi ini berawal dari redupnya semangat nasionalis dari pemimipin negeri ini, baik yang pemerintah pusat maupun daerah. Satu alasan mendasar, hal ini terbukti dari minimnya perjuanagan yang dilakukan pemerintah untuk mensejahterakan rakyat. Jikapun ada masih dibingkai dengan kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompok yang kemudian berujung pada praktek korupsi.

Perlu disadari, momentum resolusi jihad NU adalah semangat perlawanan untuk tujuan hidup mulia, hidup tanpa penjajahan dan eksploitasi guna menuju bangsa yang berkepribadian dan bermartabat. Dalam konteks hari ini, perjuangan yang dilakukan bukan berbentuk fisik seperti dahulu, tapi bagaimana berusaha menberikan yang terbaik terhadap bangsa ini.

Pemerintah dan masyrakat harus sama-sama paham akan peran dan potensinya masing, sehingga relasi keduanya akan menjadi satu sinergitas yang mendobrak perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Jika kesadaran ini ditanamkan dalam setiap pribadi masyarakat, khususnya pemimpin di negeri ini maka sekian problematika bangsa perlahan akan cepat teratasi yang kemudian berujung pada terciptanya kemajuan negeri ini.

* Kader Muda PMII Jogjakarta, Study di Fak. Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Silahkan Baca Selanjutnya...!Foswan tetap oke!>>

Meluruskan Makna Jihad

Oleh: Misbahul Ulum*
 
Sampai saat ini benih-benih terorisme belum sepenuhnya hilang. Justru, menunjukkan angka kenaikan yang semakin tajam. Sekarang ini, terorisme kian membabi buta. Targetnya tidak lagi perorangan, melainkan sudah merambah ke tempat-tempat peribadatan yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi pemeluk agama untuk beribadah kepada tuhannya.

Aksi bom bunuh diri yang meledak di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton pada hari Ahad (25/09/11), adalah salah satu bukti bahwa pemeluk agama lain dan tempat peribadatan juga terancam oleh aski terorisme.

Setiap terjadi tindakan terorisme baik berupa bom atau yang laiannya, bisa dipastikan kecurigaan umum akan mengarah pada agama Islam. Kecurigaan ini cukup berasalan karena sebagian besar pelaku bom bunuh diri itu adalah orang-orang Islam. Akhirnya muncul anggapan bahwa Islam adalah agama teroris.

Umumnya, para pelaku bom bunuh diri itu menggunakan legitimasi agama dan semangat “jihad” untuk menyerang orang-orang yang berseberangan dengan mereka. Namun, apakah benar yang mereka lakukan itu adalah wujud “Jihad”?

Jihad merupakan ajaran vital dalam Islam. Bahkan, Rasulullah memposisikan jihad sebagai salah satu amal yang paling dicintai oleh Allah setelah amalan solat dan berbakti kepada orang tua. Jihad adalah wujud tanggungjawab seorang muslim terhadap agamanya.

Beberapa tahun terakhir, terminologi jihad seringkali dikonotasikan dengan tindakan-tindakan terorisme, anarkisme, dan merusak. Sebenarnya, ini adalah anggapan yang keliru dan perlu segera diluruskan. Jihad bukanlah aksi teror, jihad bukanlah meledakkan bom. Akan tetapi jihad adalah upaya untuk menciptakan tatanan kehidupan seperti yang digariskan oleh Tuhan.

Hakekat Jihad

Kata “Jihad” berasal dari bahasa arab “Jaahada” yang bermakna bersungguh-sungguh. Kemudian secara Istilah, Jihad memiliki makna berjuang dengan sunggug-sungguh di jalan Allah seseuai dengan syari’at Islam. Tujuan utama jihad adalah untuk menegakkan dan menjaga agama Allah dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan Rasul dan Al-Quran.

Dari pengertian diatas, sesungguhnya jihad dapat diterjemahan dalam hal yang sangat luas. Jihad tidak hanya terbatas pada pengertian perang angkat senjata saja. Akan tetapi, jihad adalah wujud penghambaan seseorang terhadap Yang Maha Kuasa sesuai dengan kemampuan yang ia miliki.

Pemahaman yang menganggap bahwa jihad haruslah perang adalah pemahaman yang sangat sempit. jihad memiliki varian yang sangat banyak. Jihad meliputi segala sendi kehidupan manusia. Dimana ada peluang untuk menegakkan ajaran Tuhan, disitulah kewajiban jihad ada.

Pemahaman Parsial

Para pelaku bom bunuh diri umumnya beranggapan bahwa apa yang mereka lakukan akan dibalas dengan surga. Mereka cenderung memiliki semangat beragama yang tinggi. Namun, pemahaman keagamaannya sangat dangkal. Islam hanya difahami dari satu sisi saja tanpa melihat varian-varian pemikiran Islam yang lain serta mengabaikan kondisi sosio-kultural masyarakat yang semakin kompleks.

Jihad itu melahirkan mujahidin (orang yang melakukan jihad). Sedangkan terorisme melahirkan teroris (orang yang melakukan teror). Sesungguhnya antara jihad dan terorisme adalah dua hal yang berbeda. Jihad diorientasikan untuk mengakkan ajaran Tuhan yang memberi keselamatan bagi seluruh alam. Sedangkan terorisme diarahkan untuk merusak tananan masyarakat serta membuat suasana menjadi tidak stabil.

Pada zaman Nabi sekalipun, jihad (waktu itu) yang kemudian terwujudkan dalam bentuk perang, tidak pernah dilakukan secara sembarangan. Nabi tidak pernah bertindak arogan. Terdapat aturan-aturan bahwa dalam peperangan tidak boleh memerangi wanita, orang tua, serta merusak tempat peribadatan.

Jihad pada zaman Nabi dan jihad pada masa kini jelas sekali berbeda. Jihad masa kini bukan lagi jihad secara fisik, karena era fisik sudah lewat dan sekarang eranya adalah era kompetisi keilmuan (jihadul fikri). Jika jihad hanya dimakanai sebagai perang angkat senjata saja, maka nilai Islam yang Rahmatan lil ‘alamin tidak akan pernah terwujud, Islam akan menjadi agama yang tertutup. Sehingga semakin menguatkan anggapan orang-orang barat bahwa Islam adalah agama Pedang.

Menyeru pada Islam

Tujuan utama jihad adalah untuk menjaga dan menegakkan ajaran Tuhan dengan cara-cara Tuhan. Yaitu sesuai dengan nilai-nilai yang diajarakan oleh Rasul dan juga nilai yang tertulis dalam al-Qur’an. Bukan justru bertentangan.

Islam adalah agama yang Rahmatan lil ‘alamin. Konsekuensinya, bagi siapapun yang mengaku Islam terapat tanggungjawab untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang seimbang. Jangan sampai tindakan keagamaan yang ia lakukan justru menciderai tatanan masyarakat.

Jika orang yang mengaku islam ternyata tidak melakukan tindakan yang bernafaskan islam dan memberi efek positif bagi alam, maka sebetulnya ia belum memahami Islam dengan baik. Dan jika pemahaman ini dibiarkan terus menerus, maka akan merusak citra Islam.

Oleh karena itu, mulai sekarang harus dipahami bahwa jihad tidak hanya sebatas perang dengan pedang. Akan tetapi, jihad memiliki makna yang sangat luas. Setiap orang bisa berjihad sesuai dengan kemampuan yang dia miliki.

Tugas kita sekarang adalah memperkuat pamahaman keagamaan agar tidak mudah terprovokasi oleh paradigma sempit yang kemudian menjadikan agama sebagai legitimasi aksi penyerangan terhadap pemeluk agama lain. Wallahu ‘alam bi al-shawab (Tulisan ini dimuat di koran wawasan, 24 Oktober 2011)

* Penulis adalah Kader Muda NU, Ketua Kajian Ilmu Dakwah IAIN Walisongo Semarang
 
Silahkan Baca Selanjutnya...!Foswan tetap oke!>>