Senin, 09 Januari 2012

Cara dan Hukum Talqin Mayit


Ketika seorang muslim meninggalkan dunia, maka hal-hal yang wajib dilaksanakan adalah empat perkara. Memandikan, mengkafankan, menyembayangkan dan menguburkan. Sebagaimana kata Ibnu Ruslan di dalam Zubadnya:
 
والغسل والتكفين والصلاة # عليه ثم الدفن مفروضات
 
Dan memandikan, mengkafankan, menyembahyangkan atas mayyit, l,alu menguburkan adalah merupakan fardu.
 
Adapun mentalqin mayit tidaklah wajib atau fardhu. Hukum mentalqin mayyit adalah sunnah. Dan waktunya setelah mayit dikuburkan. Tempat mentalqin adalah di atas pekuburan, di mana si mulaqqin (orang yang mentalqin) itu duduk menghadapkan muka mayit, di atas kubur, dan orang-orang lainnya dari pada pengiring mayit berdiri sekeliling kubur. Jika sekiranya mayit tidak ditalqinkan, tidaklah orang yang tahu atas kematiannya itu menjadi berdosa. Karena hukumnya hanya sunnat. Dan tidak perlu kuburan digali kembali, sedang kesunnatan talqin adalah mayyit setelah dikuburkan.
 
Mengenai kesunatan talqin Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in berkata:
 
وتلقين بالغ ولوشهيدا كما اقتضاه اطلاقهم خلافاللزركشى بعد تمام دفن
 
Dan disunnatkan mentalqin mayit dewasa, dan sekalipun ia syahid. Sebagaimana kehendak orang yang diithlaqkan mereka.
 
Menurut Assayyidul Bakri dalam halaman yang sama:
 
وذلك لقوله تعالى: وذكر فان الذكرى تنفع المؤمنين. واجوج مايكون العبد الى التذكير فى هذه الحالة
 
Dan yang demikian itu karena firman Allah swt: dan beri ingatlah, maka sesungguhynyaperingatan itu berguna bagi orang-orang yang beriman. Dan yang paling dihajati hemba Allah kepada peringatan adalah dalam keadaan seperti ini
 
Dan sebuah hadits yang menerangkan tentang talqin diantaranya adalah riwayat Rosyid bin Sa’ad dari Dlamrah bin Habib, dan dari Hakim bin Umari, ketiga-tiganya berkata:
 
اذا سوي على الميت قبره وانصرف الناس عنه كانوا يستحبون ان يقال للميت عند قبره يافلان قل لااله الا الله اشهد ان لااله الا الله ثلاث مرات يافلان قل ربي الله ودينى الاسلام ونبيى محمد صلى الله عليه وسلم ثم ينصرف (رواه سعيد بن منصور فى سننه)
 
Apabila telah diratakan atas mayit akan kuburnya dan telah berpaling manusia dari paanya adalah mereka para sahabat mengistihbabkan (menyunatkan) bahwa dikatakan bagi mayit pada kuburnya: Ya fulan: katakanlah La Ilaha Illallah, Asyhadu alla Ilaha Illallah, tiga kali. Hai Fulan katakanlah: Tuhanku Allah, Agamaku Islam dan Nabiku Muhammad saw, kemudian berpalinglah ia. Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam sunannya.

Dan diriwayatkan pula hadits marfu’ menurut riwayat Atthabrani dan menurut riwayat Abdul ‘Aziz al-Hambali dalam Asy-Syafi’I bahwa Umamah berkata:

Apabila aku mati, maka lakukanlah olehmu terhadap diriku, sebagaimana Rasulullah saw pernah memerintahkannya kepada kita agar memperlakukan mayit kita seraya bersabda: apabila mati salah seorang dari saudara-saudara kamu, maka kamu ratakan atas kuburnya, maka hendaklah berdiri salah seorang kamu di atas kepala kuburnya, kemudian hendaklah berkata: hai fulan anak fulananh, maka sesungguhnya ada didengarnya, hanya ia tidak dapat menjawab. Lalu berkatalah: hai fulan anak fulanah, maka sesungguhnya ia duduk melurus kemudian dikatakannya: Hai Fulan anak fulanah, maka sesungguhnya ia menjawab: berilah kami petunjuk, semoga Allah melimpahkan rahmat Nya atasmu… tetapi kamu sekalian tidak mengetahuinya. Maka hendaklah dikatakannya: ingatlah apa yang engkau keluar atasnya dari dunia, yaitu penyaksian bahwa tidak ada Tuhan yang disembah dengan sebanr-benarnya melainkan Allah, dan bahwa Muhammad itu hamba Nya dan utusan Nya. dan sesungguhnya engkau telah ridha Allah sebagai Tuhan. Dan Islam sebagai agama. Dan Nabi Muhammad sebagai Nabi. Dan al-Qur’an sebagai Imam. Maka sesunggugnya Munkar dan Nakir memegang tiap tangan seseorang dan berkata: Mari kita berangkat. Alasan apa lagi kita duduk pada orang yang sudah ditalqin (diajarkan) akan hujjahnya, maka berkatalah seorang laki-laki: Ya Rasulullah. Maka jika tidak dikenal siapa ibunya? Jawabnya: di bangsakannya kepada ibunya: Hawwa, Hai Fulan bin Hawwa.

Mengenai hadits ini telah berkata alhafidz dalam attalkhish, dan isnad hadits ini baik dan telah menguatkan dia oleh Addliya’ dalam ahkamnya. []
 
Sumber: NU Online
Silahkan Baca Selanjutnya...!Foswan tetap oke!>>

Jumat, 06 Januari 2012

Kuda Terbang Nabi Sulaiman


اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلَّذِى خَلَقَ اْلإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِي اْلأَرْضِ وَالَّذِى جَعَلَ كُلَّ شَيْئٍ إِعْتِبَارًا لِّلْمُتَّقِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةًوَّسُرُوْرًا. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحـْدَهُ لاَشـَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْئ قَدِيْرٌ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ.
 
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَاَفْضلِ اْلاَنْبِيَاءِ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَاِبه اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَاَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لاِّوْلِى ٱلأَلْبَـٰبِ
 
Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama saling berwasiat untuk meningkatkan taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatur bumi seisinya. Dialah yang menentukan sejarah manusia, juga berbagai mahkluk lainnya. Ketaqwaan itu harus selalu kita upayakan dan ditingkatkan kualitasnya, karena banyaknya godaan dunia yang setiap saat mengancam dan dapat mengendurkannya.
 
Jangankan kita sebagai manusia biasa, Nabi Sulaiman pun hampir tergoda oleh dunia. Karena itulah diwajibkan atas khatib setiap kali di atas mimbar di hari Jum’at, agar berwasiat tentang ketaatan. Ushikum binasfi bitaqwallah… ittaqullah haqqa tuqatih…dan beragam kalimat dengan maksud yang seragam, yaitu meningkatkan taqwa kepada Allah subhanahu wa Ta’ala.
 
Hadirin Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia…
 
Seperti yang telah terucap dalam muqaddimah, kali ini khatib hendak menceritakan kembali sebuah kisah yang dihadirkan oleh al-Qur’an tentang kuda-kuda terbangnya Nabi Sulaiman as. yang gagah bersayap dan menakjubkan. Dalam surat Shaad ayat ke-30 hingga ayat ke-33 diterangkan.
 
وَوَهَبۡنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيۡمَـٰنَ‌ۚ نِعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ‌ۖ إِنَّهُ ۥۤ أَوَّابٌ * إِذۡ عُرِضَ عَلَيۡهِ بِٱلۡعَشِىِّ ٱلصَّـٰفِنَـٰتُ ٱلۡجِيَادُ *فَقَالَ إِنِّىٓ أَحۡبَبۡتُ حُبَّ ٱلۡخَيۡرِ عَن ذِكۡرِ رَبِّى حَتَّىٰ تَوَارَتۡ بِٱلۡحِجَابِ * رُدُّوهَا عَلَىَّ‌ۖ فَطَفِقَ مَسۡحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلۡأَعۡنَاقِ
 
"Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesunguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)* (Ingatlah) Ketika dipertunjukan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore.* Maka dia berkata, "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan."* "Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku." Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. (Shaad:30-33)
 
Para mufassir menerangkan berbagai kisah itu dengan beragam, sesuai penafsiran masing-masing. Yang jelas dapat diceritakan pakemnya bahwa Nabi Sulaiman a.s. memiliki kuda-kuda yang gagah-kekar perkasa tubuhnya, cepat-melesat larinya bagaikan kilat.
 
Berkali-kali kuda-kuda itu diandalkan sebagai balatentara yang selalu berjihad di jalan Allah swt. Suatu hari, ketika Nabi Sulaiman sibuk memeriksa dan mengatur kuda-kuda tersebut, begitu asyiknya, hingga ia tak terasa meninggalkan shalat Ashar. Karena lupa, bukan disengaja.
 
Maka, ketika Nabi Sulaiman a. s. sadar bahwa kuda-kuda itu telah menyebabkan sholatnya tercecer, ia pun bersumpah, "Tidak, demi Allah, janganlah kalian (kuda-kudaku) melalaikanku dari menyembah Tuhanku."
 
Lalu beliau menitahkan agar kuda-kuda itu disembelih. Maka beliau memukul leher-leher dan urat-urat nadi kuda-kuda tersebut dengan pedang.
 
Ketika Allah mengetahui hamba-Nya, yang bernama Sulaiman menyembelih kuda-kuda tersebut karena Diri-Nya, karena takut dari siksa-Nya serta karena kecintaan dan pemuliaan kepada-Nya, karena dia sibuk dengan kuda-kuda tersebut sehingga habis waktu shalat.
 
Maka Allah lalu menggantikan untuknya sesuatu yang lebih baik dari kuda-kuda tersebut, yakni angin yang bisa berhembus dengan perintahnya, sehingga akan menjadi subur daerah yang dilewatinya. Perjalanan yang ditempuh sebulan, maka kembalinya juga sebulan. Dan tentu, ini lebih cepat dan lebih baik daripada kuda.
 
Hadirin Jama’ah yang Mulia…
 
Kini, tiada lagi kuda-kuda bersayap yang gagah dan terbang dengan kecepatan luar biasa. Kuda bersayap itu kini hanya hidup dalam dunia dongeng. Meskipun secara fisik telah tiada, tapi nilai guna kuda itu, kini telah digantikan dengan berbagai bentuk teknologi transportasi dan informasi yang kecanggihannya mampu melipat waktu dan meruntuhkan batas ruang.
 
Sayangnya, berbagai macam benda teknologi ini menjadi simbol kemewahan yang banyak diburu oleh manusia. Walaupun mereka sadar bahwa barang-barang ini mempunyai tingkat kecanggihan luar biasa dalam upaya memalingkan manusia dari Tuhannya. Televisi, internet, game online dan juga penguasaan senjata nuklir yang diidam-idamkan.
 
Kini sudah nyata, bahwa kuda dan awan itu hadir dalam bentuk lain yang jauh lebih dahsyat, sedangkan iman manusia sekarang jauh lebih tipis dibandingkan dengan iman Nabi Sualaiman a.s. Lantas bagaimanakah seharusnya manusia menyikapinya?
 
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
 
Jika demikian pertanyaannya, bagaimanakah cara kita menerjemahkan dan menafsirkan cerita selanjutnya, yaitu ketika Nabi Sulaiman as. berniat membunuh semua kuda dan kemudian diganti oleh Allah dengan bentuk angin? Apakah itu berlaku khusus Nabi Sulaiman a.s. atau umat muslim secara pada umumnya?
 
Pertanyaan ini telah dijawab oleh Rasulullah saw dalam haditsnya: "Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah kecuali Allah akan memberimu (sesuatu) yang lebih baik daripadanya." (HR Ahmad dan Al-Baihaqi, hadits shahih)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بمَا فيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
 
 
 
Sumber: NU Online
Silahkan Baca Selanjutnya...!Foswan tetap oke!>>

Kamis, 05 Januari 2012

Mati Serius Cara Ketawa

Di Indonesia, tak ada cerita koran atau majalah mati dalam keadaan atau dengan cara ketawa. Pasti dengan sedih dan duka derita. Kenapa? karena negara kita adalah negara Indonesia, bukan negara Madura.
 
Bukan politik yang saya bicarakan, melainkan agama. Bagi orang Madura yang umumnya religius dan sangat serius dengan religiusitasnya, mati adalah kegembiraan yang kalau Tuhan membolehkan - akan mereka jalani dengan tertawa-tawa. Bagaimana tidak, wong mati itu artinya sukses berpisah dari dunia yang kerjaannya cuma menipu, dan ketemu dengan Kekasih yang amat didamba-damba, itu pun dengan jarak waktu yang tak terbatas, bahkan waktu itu sendiri tak cukup  untuk menampung pertemuan mesra antara para kekasih dengan Kekasih mereka.
 
Karena itu kalau mereka berduyun-duyun pergi ke masjid, berbinar-binar wajah mereka. Kalau mereka pergi haji ke Mekah, bercahayalah air muka mereka, sambil diam-diam berdoa: "Kekasih, ambilah aku selama-lamanya! Tak usah Engkau kirim aku kembali ke negeri tipu daya yang penuh fatamorgana di toko-toko serba ada, serta yang kalau seorang bupati mendapatkan rakyatnya mati ditembak tentara  dalam proyek yang dijalankannya, ia malah tampak bangga...."
 
Lain dengan kita yang di Jawa, terutama di Jakarta. Kalau pergi salat Jumat, cemberut wajah kita, dan sesampainya di masjid, dijamin pasti ngantuk mata kita.
 
Kita di kota-kota besar, di wilayah-wilayah metropolitan dari peradaban yang mengaku paling maju ini, telah menjatuhkan pilihan untuk berpacaran tidak dengan Kekasih Sejati, melainkan dengan kesenangan-kesenangan temporer, dengan kekasih-kekasih sementara yang kita book per-jam, dengan kendaraan-kendaraan yang selalu baru, syukur berusia di bawah 20 tahun, serta dengan kedudukan-kedudukan yang jasanya adalah membuat kita merasa cemas akan dijatuhkan oleh para demonstran darinya.
 
Jadi bagi kita yang sudah "maju", yang ada hanya mati cemberut, mati tidak rela. Mati kita tidak serius, tidak benar-benar bersedia menerima mati, alias terpaksa. Kalau malaikat bertanya: "Maunya kamu hidup sampai umur berapa sih?"
 
Kita menjawab, "Yaaah, paling tidak 70 tahun-lah." Malaikat menggoda: "Bagaimana kalau saya usulkan ke Tuhan umurmu diperpanjang 10 tahun lagi, jadi 80 tahun?"
 
Kita menjawab, "Wah, al-hamdulillah banget". "kalau ditambah jatah 20 tahun lagi, mau?" Wajah kita malu-malu, tapi jawaban kita jelas: "Ya, mosok ndak mau..."
 
"Kalau 30 tahun lagi, 40 tahun lagi, 1000 tahun lagi....?" Kita salah tingkah, tapi jelas: mau! Padahal ternyata Tuhan hanya ngasih jatah kita 55 tahun, dan itu hak Dia sepenuhnya, wong Dia yang bikin kita, Dia yang memiliki license dan copyright atas eksistensi kita seratus persen. Mau apa, lu?
 
Ya, kagak mau ape-ape. Jangankan ame Tuhan, mau melawan petugas saja ampun-ampun. Cuma dongkol doang. Nelangsa. Sampai akhirnya benar-benar mati, mati nelangsa.
 
Padahal orang Madura tidak mati nelangsa. Mereka umumnya mati ketawa. Rela mati, bahkan memang mengharapkan mati. Karena mati bukan tragedi, melainkan pertemuan cinta abadi. Karena itu juga Madura lebih ringan membayangkan indikator apa saja yang bisa membawa ke kematian. Carok tidak keberatan: akibat paling puncak paling-paling kan mati. Dan carok kan peristiwa untuk membela kehormatan, harga diri dan nilai moral.
 
Memang carok bukan cara yang dewasa dan beradab untuk menyelesaikan masalah. Tapi terus terang saja mereka yang tidak setuju, tak menerima dan tak berani carok itu bukan berarti sudah dewasa dan lebih beradab. Mereka tak mau carok karena memang standar kehormatan, harga diri dan moralitas yang hendak dipertahankan memang sudah tidak ada, atau sekurang-kurang-nya sudah tipis, sudah dikurangi sambil ditutup-tutupi dengan argumentasi-argumentasi yang muluk-muluk cara orang modern mengkosmetiki bibirnya yang kebanyakan nyinyir.
 
Alhasil, arti Mati Ketawa Cara Madura, adalah mati serius yang dijalani gembira dan batin tertawa-tawa. Mati mereka serius, sehingga hidup pun mereka jalani dengan serius, karena kehidupan adalah suku cadang untuk merakit kematian yang sebaik-baiknya. Setetes darah pun mereka hayati dengan penuh keseriusan, dengan penuh prinsip dan pertimbangan nilai yang matang. Ketika seorang pemuda Madura tergeletak dirumah sakit, diinfus dan membutuhkan sumbangan darah untuk dipompakan ke dalam tubuhnya agar bertahan hidup - ia tetap juga serius untuk memoralkan setiap tetes darah yang akan masuk ke dalam dirinya.
 
Tatkala darah yang dibawa kepadanya adalah darah salah seorang pamannya, ia menolak keras: "Saya 'dak sudi dimasuki darah paman saya! Lha wong dia suka maling dan ganggu istri orang. Kalau darah dia mengalir di badan saya, siapa yang kelak akan mempertanggung jawabkan darah itu di depan Tuhan? Darah itulah yang menjadi sumber tenaga dari kekuatan-kekuatan kurang ajar dia, saya 'dak sudi dibebani kekurang ajaran itu. Dan kalau nanti darahnya saya pakai untuk amal, saya 'dak mau dia yang mendapat pahala!"
 
Betapa ketawa kematian mereka.....
 
Emha Ainun Nadjib,
Dari buku Demokrasi Tolol Versi Saridin, Zaituna, 1998
Silahkan Baca Selanjutnya...!Foswan tetap oke!>>

Rabu, 04 Januari 2012

Undangan Foswan

Silahkan Baca Selanjutnya...!Foswan tetap oke!>>

Selasa, 03 Januari 2012

Nahdlatul Islam Indonesia

Oleh: Dedy Mardiansyah Harby*

Aktifitas yang mengitari peristiwa 10 November 1945 tentu saja merupakan sebuah rangkaian. Tidak berdiri sendiri. Baik secara gagasan pemikiran maupun gerakan lapangan. Begitu juga dengan keterlibatan komunitas santri. Kelompok yang kala itu identik dengan pesantren, kiai, pembelajaran referensi agama Islam (yang terdokumentasikan dalam kitab kuning dan juga putih), surau (langgar atau masjid) dan asrama (pemondokan).

Demikianlah. Kenyataan kembalinya tentara Kerajaan Belanda (NICA) ke Indonesia, dengan membonceng pasukan sekutu pasca kekalahan Jepang dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, membuat warga bangsa ini menjadi waspada. Apalagi mengingat pendapatan yang melimpah ruah dari hasil bumi dan hasil kerja sumber daya Indonesia yang selama ini telah dinikmati oleh para penjajah (kolonialis). Ditambah gelagat para serdadu Belanda, karena tak rela Indonesia bekas jajahan negaranya lepas begitu saja, yang suka sesumbar dan berbuat semena-mena serta kerap menjarah.

Jihad Kebangsaan

Tak hanya dwi tunggal Soekarno-Hatta dan para pimpinan nasional serta elemen bangsa lainnya yang gregetan, waspada dan melakukan gerakan. Kelompok santri yang diimami atau dikomandoi para kiai pun demikian. Tidak hanya memberikan taushiyah (wejangan dan arahan) bagi para pimpinan baik nasional maupun lokal. Tetapi juga melakukan praksis lapangan. Mulai dari memanjatkan dzikir dan do'a perjuangan (istighotsah yang kemudian menjadi bagian ritual dan tradisi dalam komunitas ini) di langgar atau masjid pesantren dan desa yang otomatis menjadikan upaya sosialisasi gerakan perjuangan lebih massif dan efektif, melatih dan menyiapkan kelompok santri sebagai bagian laskar sukarelawan pejuang rakyat serta puncaknya mengeluarkan pernyataan sikap para kiai selaku elit kelompok santri dan pimpinan umat terkait situasi kontemporer. Pernyataan itu dikenal dengan Resolusi Jihad yang dikumandangkan pada tanggal 22 Oktober 1945.

Ya, Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari, pemimpin besar elit santri kala itu yang tak lain ayah dari KH Abdul Wahid, Menteri Agama RI pertama, dan kakek dari Abdurrahman (Gus Dur), Presiden RI keempat, atas nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, organisasi afiliasi terbesar komunitas santri Indonesia itu disampaikan dengan bahasa Arab sebagai strategi menghindar dari pengawasan Belanda.

Itulah yang kemudian memantik semangat perjuangan kaum santri untuk berbuat lebih demi tanah air tercinta. Melakukan gerakan perlawanan nyata, bersama elemen lainnya, hingga membuat Surabaya, yang boleh dibilang pusat aktifitas atau "ibukota republik" santri Indonesia, jadi membara. Pergerakan 10 November 1945 yang diwarnai insiden Hotel Orange dan insiden baku tembak lainnya serta orasi langsung yang berisi pesan moral perjuangan kepada Arek-arek Suroboyo dan pekik nyaring Allaahu Akbar yang digelorakan oleh Bung Tomo melalui corong radio.

Bentrok fisik yang tak terhindarkan itu menelan korban yang cukup banyak terutama di pihak Indonesia. Catatan yang ada menyebutkan setidaknya 6.000 hingga 16.000 orang korban tewas. Baik dari warga sipil maupun dari tentara Republik Indonesia. Dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Sementara korban tewas dari pasukan sekutu dan Belanda yang dibantu India kira-kira sejumlah 600 orang.

Pertempuran yang telah memakan ribuan korban jiwa itu disebut juga pertempuran fisik terbesar melawan penjajah pasca merdeka dan telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia demi mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada peristiwa ini membuat tanggal kejadiannya dikenal oleh Republik Indonesia hingga sekarang sebagai Hari Pahlawan.

Ranah Kejuangan Santri

Peristiwa 10 November 1945 hanyalah satu cuplikan dari etos kejuangan kaum santri. Masih banyak peristiwa dan moment yang menjadi tautan sejarah dimana kaum santri menjadikan bangsa dan negara ini sebagai medan juang. Bahkan kehadiran pesantren di Nusantara, sejak zaman Wali Songo yang kurang lebih lima sampai sepuluh abad lebih, tak ayal adalah untuk menyiapkan generasi penerus bangsa yang berbudi luhur, cerdas dan berkualitas serta khas Indonesia.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah sama atau tidakkah medan juang santri masa lalu dengan masa kini dan nanti? Bagaimana kiat komunitas santri dalam memaknai, menjalani dan mengembangkan kiprah pengabdiannya terhadap bangsa? Apakah sama dengan yang dilakukan oleh generasi Wali Songo atau generasi Bung Tomo?

Prinsipnya, santri adalah sekelompok orang yang dengan perantaraan bimbingan dan keteladanan tokoh kiai melakukan aktifitas pendalaman dan penguasaan agama dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya (tafaqquh fii al diin). Ini bersumber dari salah satu ayat Qur'an yang mengarahkan agar tersedia sekelompok orang atau komunitas (thaa'ifah) dalam kaum muslimin yang tidak ikut terlibat berjuang melawan musuh-musuh Allah. Akan tetapi mengkonsentrasikan diri mereka dalam aktifitas akademik keilmuan guna menyiapkan tenaga-tenaga inti penjaga stabilitas dan kualitas moral kultural dan intelektual masyarakatnya.

Pada titik ini, perjuangan santri adalah berproses untuk menjadi pribadi suci dan mumpuni yang suatu saat tampil sebagai kiai atau elit agama yang mampu membina, membimbing dan melayani umat agar senantiasa berada dalam koridor kerelaan Allah SWT. Karenanya, medan juang santri pada titik ini adalah medan juang yang sakral dan terbatas yaitu ranah moral intelektual dan akademik keilmuan serta lingkungan almamater yang digeluti dan dinaunginya.

Realitanya, kiai, sebagai elit santri, tidak berada dalam ruang yang hampa. Yang berarti bahwa sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap penyuluhan moral dan intelektual masyarakat memberikan konsekuensi berupa tuntutan untuk memahami situasi dan kondisi yang tercipta di masyarakatnya secara menyeluruh. Tak jarang, tuntutan itu berubah menjadi tekanan kepada kiai untuk terlibat langsung di lapangan. Dimana untuk itu kiai kerap menunjuk santri atau muridnya guna menjadi badal atau pengganti dirinya apakah untuk meneruskan pengabdiannya di dalam pesantren melalui pembelajaran kitab kuning atau untuk melakukan pengabdiannya di luar pesantren melalui pendampingan masyarakat.

Di sini, medan juang santri yang diawali oleh persinggungan elitnya, sang kiai, adalah medan yang profan dan luas. Melampaui ranah moral dan intelektual. Yaitu realitas sosial yang terhampar sedemikian luas. Dari sini kemudian sejarah aktivisme komunitas santri dalam pergolakan kebangsaan bermula. Mulai dari mengajarkan tata hidup sehat dan tercerahkan menurut pandangan agama Islam baik aspek kepercayaan, ekonomi, sosial, seni budaya hingga aspek politik. Sejak dari masa Raden Fatah dan Pendirian Negara Kerajaan Demak atau jauh sebelumnya.

Dalam konteks pendirian republik inipun demikian. Siapa yang kira bahwa seorang sekaliber Ibrahim Datuk Tan Malaka yang mengonsep Republik Indonesia dengan bukunya Naar de Republiek Indonesia plus buku opus magnumnya "Madilog" dan telah menjelajahi 2 benua dan 11 negara setara dengan jarak tempuh 2 kali mengelilingi bumi ini adalah seorang santri yang hafal Al Qur'an dan merupakan produk pendidikan model Surau (pesantren di Minangkabau). Tak hanya itu, nilai-nilai Qur'an seperti merdeka dari rasa takut dan merdeka dari hasrat ingin menguasai pihak atau bangsa lain, musyawarah dan kemandirian diejawantahkan olehnya dengan apik. Karena kematangan religiositasnya pula, ia mampu menundukkan ideologi sosialisme bahkan komunisme sebagai alat perjuangan yang membuatnya disebut oleh Soekarno, Presiden RI Pertama, sebagai sosok revolusioner yang paling mahir dalam revolusi lewat teori dan praktek Gerilya-Politik-Ekonomi (Gerpolek)-nya.

Strategi perjuangan dan peperangan gerilya itu pula yang di tangan seorang Soedirman, Jenderal Besar Bapak Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang juga berlatar belakang santri menjadi berkembang. Dengan kebersahajaan khas wong ndeso (karena tidak mengenyam pendidikan tinggi seperti tokoh-tokoh pemimpin pergerakan nasional kebanyakan), kader dan guru Muhammadiyah ini rela keluar masuk hutan demi menunjukkan kekuatan fisik maha dahsyat revolusi Indonesia. Senafas dengan Tan Malaka, santri yang juga cenderung sosialis dan menolak berunding dengan penjajah ini menginginkan Indonesia Merdeka seratus persen.

Negara 'ala NU dan Muhammadiyah

Negara dalam konsep Tan Malaka, Bapak Pendiri Republik ini, adalah negara efisien dan fungsional yang dikelola oleh sebuah organisasi. Di dalamnya terdapat fungsi perencanaan (legislatif), pelaksanaan (eksekutif) dan pengawasan (yudikatif) (Hasan Nasbi dalam Seri Buku Tempo : Tan Malaka, 2010 : 155).

Tidak seperti negara demokrasi parlementer yang mengharuskan adanya partai politik dan negara dengan trias politikanya. Praktek negara model Montesqiu ini cenderung mewajarkan tindakan hegemoni dan penindasan sekelompok kecil (elit) terhadap kelompok besar (kawula alit). Sekarang, logika demokrasi seperti itu merajalela dan telah menghantam setiap lini kearifan bangsa. Praktek money politic dan memilih kucing dalam karung dalam pentas suksesi lokal maupun nasional telah menjadi bagian paling subur yang menyebabkan salah urus dan situasi carut marut. Sebab, kekuasaan telah menjadi rebutan.

Dalam konteks Negara Mashlahah, yang dikelola dari rakyat adalah kepercayaan (amanat) bukan kekuasaan. Sehingga mereka yang terlibat di dalamnya secara sukarela menjalankan mandat rakyat demi tercapainya nilai-nilai kebaikan (maslahat) secara maksimal dan seluas-luasnya. Sedikit sekali celah atau tindakan yang dekonstruktif dan kontra produktif karena yang berlangsung adalah optimalisasi nilai-nilai luhur.

Praktek pengelolaan mandat dan kepercayaan model inilah yang telah diterapkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang tak lain merupakan representasi komunitas terbesar di republik ini. Keduanya adalah organisasi masyarakat (ormas) keagamaan mayoritas di nusantara bahkan dunia. Pada kedua ormas santri (satu identik dengan basis desa sementara yang satunya identik dengan basis kota) ini praktek pengelolaan amanat kepercayaan publik yang efisien dan fungsional, sebagaimana diinginkan Bapak Republik ini, berlangsung memadai.

Lihatlah di NU, tradisi pemilihan kepemimpinan tidak berangkat dari pemilihan langsung yang menggunakan tim sukses demi mendulang suara layaknya partai politik, tetapi melalui ijma' atau kesepakatan para tokoh yang kredibilitasnya dan kualitas ketokohannya di atas rata yang berlandaskan prinsip tawadhu', rendah hati dan kebersahajaan. Dari proses ini lahirlah pemimpin aspiratif (rais syuriyah) yang berikut jajarannya menjalankan fungsi badan kehormatan dan pengawasan plus pengadilan. Sementara untuk pelaksana, Rais Syuriyah menunjuk seseorang yang telah diajukan publik untuk menjadi pemimpin eksekutif (ketua tanfidziyah) yang dengan gerbongnya menjalankan semua program yang telah digariskan dalam pertemuan massal (kongres atau muktamar).

Pun demikian di Muhammadiyah, muktamarnya berlangsung untuk memilih pemimpin aspiratif (tim formatur yang terdiri dari 13 orang dengan kualifikasi terstandar dan memiliki kapabilitas dan kualitas ketokohan di atas rata-rata). Beda sedikit dengan NU, pemimpin eksekutif dipilih oleh dan dari Tim 13 tersebut. Meski demikian, pembagian fungsi dan wewenang berdasarkan prinsip yang sama yaitu musyawarah dan persaudaraan.

Tak heran jika kemudian pada praktek kenegaraan dan kebangsaan NU dan Muhammadiyah dapat berperan begitu aktif dan produktif. Kader dan warga kedua ormaspun menjadi bagian perhatian. Namun, sayang, porsinya masih minim sekali dan juga relatif singkat, seperti momentum dipilihnya Gus Dur (mantan Ketua Umum Pengurus Besar NU), M. Amin Rais (mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah) dan Akbar Tanjung (mantan Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam) sebagai Presiden, Ketua MPR dan Ketua DPR di awal Orde Reformasi.

Jika pola tata kelola amanat dan kepercayaan publik model NU dan Muhammadiyah ini yang diterapkan dalam tatakelola Negara Kesatuan Republik Indonesia, kebijakan umum yang mampu mendatangkan kemaslahatan nasional secara maksimal insya Allah akan dapat terpenuhi.

Agenda Khilafah Mashlahah

Tempat agama adalah dalam pencarian batas-batas kepantasan hidup bagi sebuah bangsa. Demikian ungkapan terkenal "Wali" Pribumisasi Islam Indonesia, Gus Dur. Sebangun dengan Nurcholis Madjid, A. Syafi'i Ma'arif dan Emha Ainun Nadjib dan bahkan YB. Mangunwijaya, pemikir-pemikir Indonesia kontemporer yang semakin mematangkan rumusan kepribadian bangsa Indonesia secara idelogis dan teologis.

Teologi Kebangsaan Indonesia yang disarikan lewat Pancasila sebagaimana yang telah diformulasi sejak zaman Sunan Kalijaga, Tan Malaka hingga Indonesia Merdeka lewat tangan mereka telah memungkinkan bangsa Indonesia untuk menatap sebuah masa depan, yang dalam bentuknya yang unik, sangat menjanjikan. Masa depan yang sangat jauh dari mainstream atau arus utama pemerhati kajian rekayasa masa depan (futurolog).

Dengan bekal kekayaan sejarah masa lalu dalam pembentukan sebuah bangsa, penghayatan dinamika lokal, nasional, regional dan global masa kini dan tanggung jawab akan kemaslahatan hidup generasi esok hari, bangsa Indonesia kini mulai menyadari akan pentingnya proses mentransformasi diri menjadi masyarakat santri atau madani.

Proses kebangkitan nasional kembali yang terjadi di Indonesia itu sangat mungkin melampaui pencapaian Malaysia, India, Jepang, China bahkan Amerika Serikat. Bukan karena keajaiban atau doa leluhur semata, tetapi karena pembelajaran pahit-manis yang telah diberikan oleh negara-negara dan bangsa-bangsa di atas itu kepada Indonesia baik sengaja atau tidak. Dimana letak geografis Indonesia yang sangat strategis telah menyuburkan cara berpikir model Gado-gado pada bangsa ini untuk secara kreatif mengolah hal-hal yang tampaknya telah menjadi sampah dari peradaban dunia yang melintasinya dan merubahnya menjadi kembali berguna.

Praktek salah urus yang melanda negeri ini tentu pada saatnya akan sampai pada titik kulminasi. Ledakan emosi sekaligus inspirasi yang menginginkan perbaikan di seluruh lini tanpa terkecuali pada saatnya akan melibatkan dan mendudukkan para santri sebagai pengendali. Kenapa, karena pada titik ini perbaikan yang diinginkan bukanlah model anarki tetapi model santri yang manusiawi dan indonesiawi. Jauh dari tindak kekerasan dan pelanggaran nilai kemanusiaan tetapi tetap tegas sesuai batasan yang diperlukan.

Khilafah pada saatnya dikembangkan tetapi tentu bukan khilafah untuk mendirikan negara dalam negara (Syariat atau Negara Islam). Bukan pula yang membolehkan aksi pengeboman yang justru kontraproduktif dan jauh dari nilai kemaslahatan dan kemanusiaan. Khilafah dalam konteks generasi muslim yang indonesiawi atau madani ini adalah tata kelola lingkungan yang efisien, fungsional dan produktif dengan orientasi berkah dan maslahah. Di sinilah kita temui pembenaran tesis Cak Nur tentang ledakan santri yang berhasil menjadi profesional, pengusaha, dokter, artis, teknisi, sutradara dan produser film, penulis, pekerja dan pemilik media dan lain-lain. Dengan keteladanan dan kearifan, menjalankan misi para kiai yang tak lain adalah penerus tugas para nabi. Di sinilah Kebangkitan Islam Indonesia atau Nahdlatul Islam Indonesia itu terjadi. Selamat berkembang generasi santri, selamat memperbaiki dan membangkitkan negeri ini!

* Mantan jurnalis Bengkulu Ekpress, tengah studi di PPS. IAIN Raden Fatah Palembang dan mengabdi di PP. Nurul Huda Sukaraja serta Sekum MUI OKU Timur, Sumatera Selatan.
Silahkan Baca Selanjutnya...!Foswan tetap oke!>>

Senin, 02 Januari 2012

Siapa kita sebenarnya?

Oleh Cecep Zakarias El Bilad*
 
Jika ditanya, siapa kita? Jawabannya mungkin akan sebanyak pertanyaan itu diucapkan. Tapi jika diperjelas lagi, siapa kita ini dalam hubungannya dengan alam semesta. Agar menghasilkan jawaban yang baik, kita perlu mempertimbangkan dua sisi, persamaan dan perbedaan kita dengan alam semesta.

Pada sisi yang pertama, ada banyak aspek yang menyamakan kita dengan alam semesta. Tubuh kita memiliki unsur-unsur alam semesta. Misalnya, sekitar 75 persen tubuh kita adalah air. Sementara air ialah satu dari sekian unsur utama pembentuk kehidupan di alam ini. Bahkan keseluruhan tubuh kita setelah mati kelak akan melebur menjadi tanah, wujud asalnya. Saking meleburnya dengan alam semesta, tubuh kita pun menjadi “alam” kehidupan bagi organisme-organisme lain seperti kutu rambut, bakteri dan virus. Kita sendiri adalah satu dari sekian organisme yang hidup dalam “tubuh” alam semesta ini.

Maka pertanyaannya menjadi, siapa kita dan siapa alam semesta ini? Ada hubungan apa kita dengan alam semesta? Jawaban sejatinya sudah disediakan para filosof ribuan tahun lalu. Aristoteles, misalnya, menjawab bahwa alam semesta adalah ‘akibat’. Ia ada atau muncul karena adanya ‘sebab’. Akibat tidak akan pernah ada tanpa adanya sebab. Manusia adalah bagian integral dari alam semesta. Jadi, kita manusia dan alam semesta berada dalam satu kelas, yakni kelas ‘akibat’; sebuah sistem kehidupan yang muncul akibat adanya Sebab Pertama (the First Cause), sebab yang ada tanpa adanya sebab yang lain. Ia ada dengan dirinya sendiri.

Ternyata, jawaban kaum filosof ini memperoleh penegasan dalam Islam. Dikatakan dalam al-Quran antara lain

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu (al ‘Alaq:1)

“Allah menciptakan manusia dari air mani…” (an-Nahl:4)

“Segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi…” (al-An’am:1)

Konsep sebab dalam al-Quran dibahasakan dengan ‘penciptaan’. Sangat tegas dalam kutipan-kutipan ayat di atas bahwa manusia adalah wujud yang diciptakan. Siapa yang menciptakan? Dialah Dia, Tuhan yang melalui manusia pilihan-Nya, memperkenalkan diri sebagai Allah, al-Rahmān, al-Rahĭm, al-Awwal, al-Ăkhir, dan lain sebagainya.

Manusia itu diciptakan. Berarti seluruh potensi, baik fisik maupun non-fisiknya pun adalah ciptaan. Berbeda dengan Dia Sang Pencipta, yang sempurna, mutlak, abadi baik wujud maupun esensinya, mahluk atau ciptaan adalah kurang, relatif dan fana baik wujud maupun esensinya, baik sosok maupun kualitasnya. Keterbatasan pada saat yang sama adalah keragaman. Maka mahluk itu beragam, terbagi ke dalam beragam spesies dan jenis. Manusia, misalnya, adalah mahluk, maka manusia adalah terbatas. Ia terbatas baik sosok, fisik dan ruhaninya, maupun kualitas atau kemampuannya. Ini semua adalah fitrah mahluk/ciptaan. Ini pula yang membedakannya dengan Dia yang Sempurna, Mutlak dan Abadi. Dia yang Satu.

Fakta dikotomis antara yang diciptakan (mahlûq) dan yang mencipta (khâliq) ini menjadi pesan, bahwa hakekatnya kita manusia berada pada satu level dengan hewan, tumbuhan, air, dan entitas-entitas lain di alam raya ini: level mahluk. Dari sekian mahluk yang ada, kita manusia memang menempati posisi teratas sebagai ciptaan terbaik Tuhan (at-Tîn:4). Manusia ditunjuk Allah sebagai wakil dengan tugas kepemimpinan di antara para mahluk lain (al-An’am:165). Namun ini tidak menjadi alasan bagi kita untuk bersikap angkuh, berbangga diri dan sombong. Sebab diri kita, seluruh potensi yang dimiliki, seluruh kekuasaan yang diraih, tak lebih sekedar pemberian (pinjaman) Allah. Yang semuanya bisa kapan saja diambil oleh Sang Pemilik. Yang semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban. Maka dalam Islam, semua sikap dan tindakan yang bersumber dari kebanggaan, keangkuhan, kesombongan pribadi dikategorikan sebagai terlaknat/dosa. Allah memperingatkan hal ini dalam sebuah hadits qudsi yang kira-kira artinya, “Arogansi adalah baju kebesaran-Ku, dan kebanggan diri adalah selendang-Ku. Maka siapapun manusia yang menandingiku dengan salah satu dari keduanya, Aku akan melemparnya ke dalam neraka!”.

Pertanyaan ‘siapa kita sebenarnya’ ini mungkin sudah pernah terbesit di benak setiap orang. Dan tentunya sudah pula ditemukan jawabannya . Tapi sudahkah ini terpancar dalam setiap gerak lahir dan batin kita sehari-hari? Sementara kita mengakui posisi sejajar kita dengan hewan, tumbuhan dan benda-benda lain di alam ini, kita masih memposisikan diri sebagai superior sehingga sekehendaknya saja memperlakukan mereka. Pengrusakan alam kian merajalela. Sementara kita memanfaatkan mereka demi kelangsungan hidup, tidak ada upaya sungguh-sungguh kita untuk merawat dan menjaga kelanggengan mereka.

Kesewenang-wenangan manusia atas alam semesta nampak subur di mana-mana. Terlepas siapa pelakunya, yang jelas mereka adalah dari organisme bernama manusia. Bukankah ini adalah sebuah ekspresi dari kesombongan dan keangkuhan? Dengan segala potensi unggul yang dimilikinya, manusia berbuat sekehendaknya terhadap alam semesta yang ‘lemah’.

Tidak berhenti di situ, manusia pun kemudian membidikkan keangkuhan-kesombongannya pada sesamanya. Motif apa selain kesombongan-keangkuhan ketika seseorang dengan keunggulan fisik, harta, ilmu, jabatan dan popularitas berbuat sekehendaknya kepada orang lain yang lebih lemah dalam hal-hal tersebut. Berapa juta manusia Indonesia dililit kemiskinan, kelaparan dan kebodohan akibat ketidakpedulian segelintir manusia Indonesia lainnya yang: menggunakan jawaban politiknya untuk menumpuk kekayaan dan kemewahan sehingga mendisfungsikan lembaga-lembaga negara yang dipimpinnya; mengimpor besar-besaran produk-produk pertanian sehingga kerap merugikan para petani lokal; menjual aset-aset negara kepada swasta domestik maupun asing; membangun area-area perkantoran dan perumahan mewah sehingga mempersempit ruang tinggal dan usaha jutaan rakyat kecil di Jakarta; dan seterusnya.

Motif apa selain kesombongan-keangkuhan ketika seorang beragama merasa diri benar mutlak sehingga meremehkan orang lain yang tidak atau kurang taat beragama; mengklaim sesat, kafir dan klaim-klaim lain yang merendahkan kepada orang lain yang berbeda mazhab; memperlakukan secara tidak manusiawi orang-orang yang berbeda tersebut; dan lain sebagainya.

Masih banyak lagi tindakan-tindakan yang disadari atau tidak, diakui atau tidak, pada hampir semua lini kehidupan, merupakan kamuflase dari kesombongan-keangkuhan sosok manusia. Sebuah sikap yang mengingkari fitrahnya sebagai mahluk yang kurang, relatif dan fana baik wujud maupun esensinya, baik sosok maupun kualitasnya. Atas dasar apa sikap sombong-angkuhnya dibangun?

Islam diturunkan Allah guna mengajarkan prinsip-prinsip moral. Moral bukan hanya dalam kaitannya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan alam semesta dan organisme-organisme lain di dalamnya, serta dengan Dia Sang Pencipta. Kesombongan-keangkuhan oleh karenanya adalah sikap yang sangat tidak bermoral dalam perspektif bahwa manusia adalah bagian sangat kecil dari alam semesta, dan bahwa manusia adalah mahluk, bukan Tuhan.

* Dewan Pengasuh Pesantren Mahasiswa “Mutiara Bangsa”, Depok; Mahasiwa Pascasarjana The Islamic College (IC) Jakarta
Silahkan Baca Selanjutnya...!Foswan tetap oke!>>

Jumat, 30 Desember 2011

Tahu-tahu Tahun Baru

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Tahu-tahu Ahad. Tahu-tahu Senin. Tahu-tahu Selasa. Tahu-tahu Rabu. Tahu Kamis. Tahu Jumat. Tahu-tahu Sabtu. Tahu-tahu Januari. Tahu-tahu Februari. Tahu-tahu Maret. Tahu-tahu April. Tahu-tahu Mei. Tahu-tahu Juni. Tahu-tahu Juli. Tahu-tahu Agustus. Tahu-tahu September. Tahu-tahu Oktober. Tahu-tahu November. Tahu-tahu Desember. Tahu-tahu Januari lagi. Tak terasa ya?!

Tak terasa. Berapa umur Anda sekarang? Berapa tahun lagi Anda ingin hidup? 10, 20, 30, atau 50 tahun lagi. Apalah artinya angka-angka ini bila setiap saat umur kita digerogoti waktu, tidak terasa? Bahkan, sering justru dengan suka ria kita menyambut dan merayakan tahun baru, seakan-akan kita tak paham bahwa setiap tahun baru umur kita bertambah dan bertambah umur berarti sebaliknya: berkurangnya umur.

Bayi dan anak kecil seperti lebih sadar dari kita yang tua-tua. Pertambahan umur bagi mereka lebih bermakna. Perubahan diri mereka seiring bertambahnya umur mereka, begitu jelas bisa dilihat. Dari tengkurap, merangkak, misalnya, menjadi bisa berjalan; dari tak bisa bicara, ngoceh tanpa makna, hingga lancar bicara; dari kemlucu, kemeplak, hingga jemagar; dari suka bermain-main hingga suka bersolek; dsb, dst. Semuanya dapat jelas terlihat. Bandingkan dengan kita yang tua-tua ini. Apa perubahan yang dapat dilihat dari kita?

Kesibukan kita -entah apa?- tetap saja yang itu-itu. Berlari ke sana, berlari ke sini. Yang memburu harta, terus memburu harta. Yang berebut kursi, tetap tak berubah berebut meja, misalnya. Yang pamer kepintaran atau kekayaan, terus pamer seperti tak kunjung yakin bahwa kepintaran atau kekayaannya sudah diketahui. Yang bertikai tak pernah berubah menyadari kesia-siaannya. Yang menipu, yang korup, yang merekayasa kejahatan, yang nyogok, yang disogok, yang selingkuh, dst, meski sudah konangan, masih terus tak berhenti. Berapa tahun lagi mereka ini akan istiqamah berlaku demikian? 10, 20, 30, 50 tahun lagi. Ataukah menunggu dikejutkan maut? Bukankah mereka yang tidak pernah menyadari dan memikirkan perubahan waktu -karena sibuk menjalaninya dengan kegiatan rutin tanpa mengevaluasi- berarti menunggu kematian yang mendadak?

Bacalah berita! Simaklah isu dan opini yang berkembang di tanah air, terutama beberapa tahun terakhir ini! Bukankah yang itu-itu saja yang kita dengar? Reformasi, KKN yang hanya terus dibicarakan. Pemimpin yang terus tidak jelas ke mana kita ini akan dipimpin. Kebijaksanaan yang sering sangat tidak bijaksana terus saja dilakukan. Hukum yang terus dibuat permainan. Pertikaian antarkelompok dan perorangan yang terus terjadi. Penggusuran dan pelecehan hak rakyat yang terus berjalan. Politik praktis yang -seperti Inul- terus menggoyang dan diedani. Para politisi yang terus berebut kekuasaan. Rakyat yang terus dijadikan objek. Penggelapan di departemen-departemen dan lembaga-lembaga penting yang tak kunjung kapok. Pencurian besar-kecil, kasar-halus, yang terus merebak. Pemaksaan kehendak yang terus sok hebat. Dan sebagainya dan seterusnya.

Kalau kita amati 'perilaku monoton' ini secara cermat, kita bisa telusuri akarnya pada kegandrungan orang kepada dunia yang berlebihan. Kepentingan dunialah yang menjadikan orang arif menjadi bebal, orang pintar menjadi bloon, orang ramah menjadi sangar, orang waras menjadi majnun, orang sopan menjadi kurang ajar, saudara lupa saudaranya, manusia menjadi binatang atau bahkan setan. Geledahlah diri! Mengapa kita tega membiarkan anak kita tak terdidik? Mengapa kita enteng merusak alam? Mengapa orang tak malu menilap harta rakyat? Mengapa kita berkelahi dengan saudara kita sendiri? Mengapa tanda gambar partai kita lebih kita agungkan katimbang bendera Merah Putih dan lambang garuda? Mengapa kita yang beragama Islam lebih asyik membaca koran daripada Quran? Mengapa ayat tidak kita ikuti, tapi kita buat mengikuti kita? Mengapa nurani dan akal sehat kita kalahkan dengan hawa nafsu? Mengapa memenangkan partai lebih kita pentingkan daripada memenangkan persaudaraan bangsa? Mengapa kepentingan sesaat kita menangkan dari kepentingan Indonesia? Bila kita jujur, kita akan menemukan jawaban itu semua pada itu tadi: kegandrungan yang berlebihan kepada dunia. Benar sekali dawuh yang menyatakan Hubbud dunya raasu kulli khathiiatin, gandrung dunia adalah sumber dari setiap kesalahan.

Namun sebebal-bebal orang bebal, sebloon-bloon orang bloon, sesangar-sangar orang sangar, se-majnun-majnun orang majnun, sekurang ajar-kurang ajar orang yang kurang ajar, selupa-lupa orang lupa, masak suatu saat tidak tersadarkan, misalnya, oleh umur yang kian menipis setiap tahun. Masak sekian banyak pemimpin akan terus lupa semua ke arah mana akan dibawa orang-orang yang mereka pimpin. Masak sekian banyak politisi akan terus mbadut, padahal sudah lama tak lucu. Masak sekian banyak penegak hukum akan terus melecehkan hukum semua. Masak sekian banyak orang yang mengaku membela dan mewakili rakyat akan terus tak mau tahu kepentingan rakyat. Masak sekian banyak penjabat akan terus berpikir jabatan itu langgeng. Masak sekian kali pemilu masih tak kunjung bisa mendewasakan kita dalam berdemokrasi. Masak sekian kemelut yang melanda tak kunjung menyadarkan sekian banyak makhluk berpikir. Masak sekian banyak manusia akan terus lupa menyadari kemanusiaannya yang mulia. Masak Allah Yang Maha Rahman akan terus dilupakan hamba-hamba-Nya. Masak bertabahnya umur terus tak kunjung menambah kearifan?

Inilah -husnudzdzann atau kepercayaan tentang kemurahan Allah dan keaslian manusia yang dimuliakan-Nya. Inilah yang masih membuat kita sedikit optimistis menyambut tahun baru. Menyambut masa depan kita sendiri.

Selamat Tahun Baru! Semoga kita dan negeri kita selamat!
Silahkan Baca Selanjutnya...!Foswan tetap oke!>>